Jumat, 21 November 2008

Adsense Secret

Ready to find out a huge adsense secret? Of course you are! Joal Comm writes about the number one mistake that people can make when displaying their adsense. I urge you to read this before you place your ads or even if you have your ads displayed! The #1 Biggest Mistake That People Make With Adsense
By Joel Comm
It's very easy to make a lot of money with AdSense. I know it's easy because in a short space of time, I've managed to turn the sort of AdSense revenues that wouldn't keep me in candy into the kind of income that pays the mortgage on a large suburban house, makes the payments on a family car and does a whole lot more besides.

But that doesn't mean there aren't any number of mistakes that you can make when trying to increase your AdSense income - and any one of those mistakes can keep you earning candy money instead of earning the sort of cash that can pay for your home.

There is one mistake though that will totally destroy your chances of earning a decent AdSense income before you've even started.

That mistake is making your ad look like an ad.

No one wants to click on an ad. Your users don't come to your site looking for advertisements. They come looking for content and their first instinct is to ignore everything else. And they've grown better and better at doing just that. Today's Internet users know exactly what a banner ad looks like. They know what it means, where to expect it - and they know exactly how to ignore it. In fact most Internet users don't even see the banners at the top of the Web pages they're reading or the skyscrapers running up the side.

But when you first open an AdSense account, the format and layout of the ads you receive will have been designed to look just like ads. That's the default setting for AdSense - and that's the setting that you have to work hard to change.

That's where AdSense gets interesting. There are dozens of different strategies that smart AdSense account holders can use to stop their ads looking like ads - and make them look attractive to users. They include choosing the right formats for your ad, placing them in the most effective spots on the page, putting together the best combination of ad units, enhancing your site with the best keywords, selecting the most ideal colors for the font and the background, and a whole lot more besides.

The biggest AdSense mistake you can make is leaving your AdSense units looking like ads.

The second biggest mistake you can make is to not know the best strategies to change them.

For more Google AdSense tips, visit

Adsense-Secrets.com

Copyright © 2005 Joel Comm. All rights reserved

Joel Comm is Dr. AdSense, an Internet entrepreneur who has been online for more than 20 years. Joel is co-creator of ClassicGames.com, now known as Yahoo! Games and is the author of the web's best-selling AdSense ebook, "Google AdSense Secrets (Or What Google Never Told You About Making Money With Adsense)".

Cara meletakkan google Ads dalam postingan (1)

Meletakkan Google Ads atau iklan google di dalam postingan udah sering dibahas oleh para senior. Dan jika saya menulis hal ini, hanya semata-mata saya tujukan untuk kang khodirin yang sempat nanyakan hal ini disini.

Karena saya lupa dari blog siapa dulu saya dapet Cara meletakkan google Ads dalam postingan ini, maka saya hanya menyampaikan cara2 Cara meletakkan google Ads dalam postingan yang udah pernah saya lakukan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para pakar HTML. Adapun Cara meletakkan google Ads dalam postingan adalah sbb:

1. Masuklah ke edit html blogspot anda. (saya hanya tahu untuk blogspot saja)

2. Centang kotak kecil disamping tulisan "Expand Template Widget", untuk meng-explore isi widget template anda.

3. Oh ya.. jangan sampe lupa untuk memback up template anda dengan cara meng klik "Download Template Lengkap", untuk menghindari kesalahan edit yang kita lakukan.

4. Cari kode ini:


5. Jika sudah ketemu... Silahkan convert kode google ads anda. Saya lebih suka pake microsoft fontpage. Karena disamping mudah, dapat dilakukan dalam mode Offline. Jika kode google ads anda udah di pharse atau dikonversi... lanjutkan dengan:

6. Paste kode google ads di bawah kode


7. Untuk memberikan efek pemisah atau garis batas antara google ads dan posting, kita dapat menambahkan kode: persis dibawah kode:
. Dan jangan lupa tambahkan kode pada akir google ads kita.
Jadi.. susunannya kurang lebih sbb;






Yang saya tandai dengan warna merah adalah warna garis batas. Kita dapat merubahnya sekehendah hati.

8. Jika kita tidak ingin memeberikan garis pemisah antara google Ads dengan postingan, jangan lakukan langkah no 7 diatas.

9. Terakir, Save template kita.

Perhatian: Saya tidak bertanggung jawab jika suatu saat blog anda di banned oleh google karena melakukan tutorial di atas ini. Karena menurut TOS google, kita tidak diperkenankan merubah kode google Ads.

Tulisan ini bebas di Republish untuk kepentingan Non Komersil. Dan saya sangat menghargai jika anda memberikan link tautan ke http://www.sawasanganam.com/ dengan anchor text sawasanganam.com Tutorial blogspot

Selasa, 11 November 2008

Cara tepat menghasilkan uang dari adsense

Pernah ngga kamu mendengar berita tentang seseorang yang telah menghasilkan ribuan dollar dari google adsense? Pernahkah kamu mendengar cerita walaupun ctr-nya 10 % tetapi menghasilkan $1-$5 per klik? Pernahkah kamu berharap bisa mengungkapkan




bagaimana mereka bisa melakukan hal trersebut dan mulai menghasilkan uang yang sesungguhnya dari adsense ? Jika Ya, bersiaplah karena saya akan menunjukkan bagaimana hal tersebut bisa terjadi…..

Google adsense adalah program advertising yang sangat luar biasa karena melibatkan jaringan yang begitu besar dan jutaan website. Program ini awalnya didesain hanya berupa iklan teks dengan variasi ukuran, tetapi sekarang sudah merambah ke iklan berupa gambar. Iklan yang berupa teks telah menunjukkan kesuksesannya karena kerelevananya terhadap konten/subjek yang ditampilkan dari suatu situs.

Google adsense juga salah satu senjata yang sangat ampuh bagi para website publisher. Karena ia bisa menyulap situs menjadi mesin menghasilkan uang secara mudah dan jika digunakan dengan baik maka bisa menghasilkan pendapatan yang tidak sedikit. Bagaimanapun, jika kita tidak memanfaatkannya dengan baik dan maksimal untuk menghasilkan income, maka sama saja seperti kita merelakan kepergian uang yang sudah tersedia didepan mata.

Untuk memaksimalkan penghasilan adsense kita, ada 5 hal yang kita perlukan :
1. Format dan penempatan iklan yang tepat.
2. Targetkan kata kunci (keyword) yang bernilai.
3. Sebanyak mungkin konten yang sesuai dengan target.
4. Isi situs yang relevan.
5. Memantau statistic yang google berikan secara baik.

Format iklan yang tepat.
Pada intinya untuk menghasilkan uang di adsense adalah bagaimana meningkatkan click through rate (CTR). Apa gunanya begitu banyak pengunjung di situs kita atau keyword yang mempunyai earning per-click-nya sangat mahal,tetapi tidak ada pengunjung yang meng-klik iklan kita.

Nah, untuk memaksimalkan CTR, maka ada 5 aturan yang harus dilakukan :

1. Gunakan format iklan yang performanya sangat baik dibandingkan yang lain. Gunakan format 250x250 rectangle.

2. Letakkan iklan dilokasi yang tepat dan terbaik da halaman situs kita (bukan tempat yang biasa digunakan para publisher pada umumnya).

3. Gunakan kombinasi warna yang tepat, hal ini akan membuat pengunjung merasa tertarik.

4. Buatlah latarbelakang warna iklan sama dengan warna halaman situs kita, atau usahakan semirip mungkin.

5. Buatlah iklan tanpa border (batas), dengan men-setting warna border samadengan warna latarbelakang iklan.

Kata kunci
Kata-kata yang tepat untuk halaman yang ada adsensenya sangatlah penting.


Karena para pemasang iklan (adwords) hanya membayar pada kata kunci tertentu, dan beberapa kata kunci memiliki nilai yang sangat mahal dibandingkan kata kunci yang lain. Jika subjek yang dibahas pada situs kita adalah hal yang itu-itu saja, dan kata kunci yang digunakan tidak bernilai,maka iklan yang muncul pun adalah iklan yang nilainya rendah.

Konten

Menulis konten yang kaya akan kata kunci yang tertarget adalah sangat penting, dan sangatlah disarankan untuk menulis konten seperti setiap harinya. Tapi untuk memulai jalan yang mulus di adsense, kita perlu mempunyai ribuan artikel yang siap untuk dipublikasikan.

MUI Minta KPI Sikapi Foto Jenazah Imam Samudera


JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk menelusuri munculnya foto jenazah Imam Samudra di sebuah situs bernama arrahmah.com.

Meski mengaku tak keberatan dengan foto tersebut, anggota MUI Amidan mempertanyakan apa tujuan dari dipasangnya foto tersebut.

“Ya tidak apa-apa kan? Apa fotonya memperlihatkan bagian tubuh yang ada bekas lukanya? Tapi harusnya ditanyakan tujuannya ditampilkan itu untuk apa?” ujar Amidan saat dihubungi okezone, Selasa (11/11/2008).

Menurutnya, KPI harus menentukan apakah pemasangan foto jenazah terpidana mati Bom Bali I tersebut melanggar hak-hak almarhum sebagai Pribadi atau tidak.

“Tanyakan ke KPI. Sekalipun sudah mendapat izin keluarga, apakah ada melanggar etika dimana menampilkan (sisa) kekerasan atau yang lainnya,” pungkas Amidan. (teb)

Roy Suryo: Foto Imam Samudra Asli


Konsultan multimedia Roy Suryo memastikan bahwa foto jenazah Imam Samudra yang ramai muncul di sejumlah situs belakangan ini adalah asli. Ia membantah pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira yang sempat meragukan keaslian foto tersebut.

Menurut Roy, foto itu diambil menggunakan kamera digital Sony Cybershot DCS-H9 warna hitam dengan kecepatan 8 megapixel. Ia mendeteksi, waktu pengambilan gambar jenazah pada Minggu (9/11) pukul 09.04 WIB, di kediaman orangtua Imam Samudra, di Lopang Gede, Serang, Banten.

“Yang mengambil gambar jenazah itu bisa siapa saja. Yang jelas ia adalah orang yang dekat dengan jenazah saat itu,” kata staf pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, itu, Selasa (11/11).

Seperti telah diberitakan sebelumnya, setelah eksekusi Amrozi Cs, beredar foto jenazah Imam Samudera lewat laman http://www.arrahmah.com. Foto itu diberi judul ‘As Syahid Imam Samudra Bergabung Dengan Kafilah Syuhada’.[inilah.com.*/nuz]

Senin, 10 November 2008

An Indonesian's Prison Memoir Takes Holy War Into Cyberspace


JAKARTA, Indonesia -- After Imam Samudra was charged with engineering the devastating Bali nightclub bombings two years ago, he taunted his police accusers in court, then greeted his death sentence with the cry, "Infidels die!"

So when Samudra published a jailhouse autobiography this fall, it was not surprising that it contained virulent justifications for the Bali attacks, which killed 202 people, most of them foreign tourists.
But tucked into the back of the 280-page book is a chapter of an entirely different cast titled "Hacking, Why Not?" There, Samudra urges fellow Muslim radicals to take the holy war into cyberspace by attacking U.S. computers, with the particular aim of committing credit card fraud, called "carding." The chapter then provides an outline on how to get started.

The primer on carding is rudimentary, according to U.S. and Indonesian cybercrime experts, but they said the chapter provides a rare glimpse into the mounting threat posed by terrorists using Internet fraud to finance their operations.

"The worry is that an army of people doing cybercrime could raise a great deal of money for other activities that terrorists are carrying out," said Alan Paller, research director of the Sans Institute, a U.S. Internet-security training company.

Samudra, 34, is among the most technologically savvy members of Jemaah Islamiah, an underground Islamic radical movement in Southeast Asia that is linked to al Qaeda. He sought to fund the Bali attacks in part through online credit card fraud, according to Indonesian police. They said Samudra's laptop computer revealed an attempt at carding, but it was unclear whether he had succeeded.

Internet crime experts said Samudra's book seems unprecedented as a tool for recruiting radical Muslims into a campaign of online fraud and building networks of fundraisers.

"This is exactly the kind of advice you would give someone who wanted to get started in cybercrime," said Paller, who reviewed a translation of the chapter. "It doesn't focus on a specific technique, but focuses on how you find techniques and focuses on connecting with other people to act loosely together."

Titled "Me Against the Terrorist!" the book depicts Samudra on the cover in a now-classic pose from his trial last year in Bali. He is clad in a white shirt and white Muslim skullcap, with his right arm outstretched and a single finger raised as he lectures the judges.

Four thousand copies in Indonesian have been issued by a small publisher and are selling for about $4 each in at least seven cities across the islands of Java and Sumatra, said Achmad Michdan, Samudra's attorney, who wrote the forward. Michdan said the publisher is planning a second run and is considering translating the book into English, French and Arabic. Profits benefit Samudra's wife and children. Samudra remains on death row.

Most of the book is a memoir that tracks Samudra from his early schooling in Java, through his arms training in the Afghan mountains, his exile in Malaysia and his return to Indonesia. It includes arguments for killing Western civilians and bitter critiques of U.S. policy in Israel, Afghanistan and Iraq, including photographs of Muslim civilian casualties.

Toward the end, Samudra informs readers that the United States is not as invincible as they might think.

"It would not be America if the country were secure. It would not be America if its computer network were impenetrable," he writes at the beginning of the hacking chapter. He continues by urging fellow militants to exploit this opening: "Any man-made product contains weakness because man himself is a weak creature. So it is with the Americans, who boast they are a strong nation."

The chapter is less a how-to manual than a course of study for aspiring hackers and carders. Samudra directs them to specific Indonesian-language Web sites that provide instruction. For those who find these sites too sophisticated, he counsels first learning computer programming languages, in particular Linux, and suggests several other Web sites, including one run by young Muslims. Then he advises learning about hacking by finding mentors through online chats. He lists six chat rooms as sources

Senin, 27 Agustus 2007

Sang Primadona

Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.

Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, "Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup."

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!"

"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang."

"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim."

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa, Bu?"

"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!"
"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!***